20 Tahun Rumbia Tak Lagi Berbuah di Aceh Barat, Penjual Rujak Kehilangan Cita Rasa Khas Meulaboh

20 Tahun Rumbia Tak Lagi Berbuah di Aceh Barat, Penjual Rujak Kehilangan Cita Rasa Khas Meulaboh

MEULABOH, REDAKSILINTAS.COM – Buah rumbia yang dahulu dikenal sebagai salah satu hasil alam unggulan Kabupaten Aceh Barat, kini semakin sulit ditemukan. Bahkan, menurut keterangan warga setempat, sekitar 20 tahun terakhir tanaman rumbia di daerah tersebut tidak lagi menghasilkan buah seperti dahulu.

Kondisi ini turut dirasakan para pedagang rujak di Meulaboh. Buah rumbia yang sebelumnya menjadi salah satu bahan penting untuk menghasilkan cita rasa khas rujak Aceh kini tidak lagi mudah diperoleh.

Evi, salah seorang penjual rujak di Meulaboh, mengatakan bahwa kelangkaan buah rumbia membuat dirinya harus menggunakan bahan pengganti agar tetap bisa melayani pelanggan.

“Karena buah rumbia sudah tidak ada lagi, kami terpaksa mencampur rujak dengan salak, ketela madu, dan buah-buahan lainnya. Namun, rasanya tidak sesedap dahulu ketika masih menggunakan buah rumbia,” ujar Evi kepada Redaksi Lintas, Rabu (14/10/2026), di Meulaboh.

Pada masa lalu, Aceh Barat dikenal menghasilkan buah rumbia dalam jumlah besar. Hasil panennya bahkan diperdagangkan hingga ke Banda Aceh melalui para pedagang buah dari wilayah tersebut. Kini, keberadaan buah rumbia seolah tinggal kenangan, sekaligus meninggalkan perubahan pada cita rasa rujak yang menjadi salah satu kuliner masyarakat.

Batang Rumbia Dimanfaatkan Menjadi Sagu

Meski buahnya tidak lagi dapat diandalkan, pohon rumbia yang tumbuh tinggi dan dikenal masyarakat sebagai batang sagu masih memiliki nilai manfaat ekonomi. Selain dapat diolah menjadi bahan pangan, sagu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pakan ternak, seperti ayam dan itik.

Di Gampong Ladang, Kecamatan Sama Tiga, Kabupaten Aceh Barat, masyarakat mulai mengembangkan pengolahan sagu dengan dukungan mesin produksi. Batang sagu diolah menggunakan mesin, kemudian dikemas dan dijemur hingga kering.

Proses pengolahan tersebut turut melibatkan kaum ibu di Gampong Ladang. Setelah melalui proses pengeringan, sagu hasil produksi masyarakat dipasarkan dengan harga sekitar Rp12.000 per kilogram.

Usaha ini menjadi salah satu upaya masyarakat dalam memanfaatkan potensi lokal sekaligus membuka peluang pendapatan bagi keluarga. Produk sagu dari Gampong Ladang pun disebut telah dikenal hingga ke luar Kabupaten Aceh Barat.

Keuchik Dorong Kekompakan dan Pemberdayaan Perempuan

Sementara itu, Keuchik Gampong Ladang, Chairul Musca, mengharapkan seluruh masyarakat terus memperkuat kebersamaan dan bekerja sama dalam mengembangkan potensi ekonomi gampong, terutama melalui pemberdayaan kaum perempuan.

Ia menyebutkan bahwa sebelumnya telah dibentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai wadah bagi kaum ibu untuk mengembangkan kegiatan pertanian dan meningkatkan produktivitas masyarakat.

Saat ini, kelompok tersebut kembali mempersiapkan penanaman bawang merah dengan memanfaatkan bantuan bibit dari Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Barat. Lahan seluas sekitar 50 meter persegi sedang dibersihkan untuk persiapan penanaman yang direncanakan menjadi penanaman keempat.

Chairul berharap bantuan tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga kegiatan pertanian masyarakat terus berkembang dan memberikan hasil yang bermanfaat bagi keluarga.

“Kami sangat mengharapkan seluruh masyarakat Gampong Ladang dapat bersatu padu, terutama kaum ibu, agar kegiatan kelompok wanita tani terus berjalan dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” demikian harapan Chairul Musca saat ditemui di Gampong Ladang. (Mhb/RL)

Writer: muhibbulEditor: RAHMA