Tim Siswa Sesko TNI Tinjau Karhutla di Jejangkit, Soroti Keterbatasan Sarana dan Alat Pemadaman

Tim Siswa Sesko TNI Tinjau Karhutla di Jejangkit, Soroti Keterbatasan Sarana dan Alat Pemadaman

BARITO KUALA, REDAKSI LINTAS.COM — Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Barito Kuala menjadi perhatian Perwira Siswa Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI). Tim Siswa Sesko TNI melaksanakan peninjauan dan penyuluhan penanggulangan Karhutla di Desa Sampurna, Kecamatan Jejangkit, Kab. Barito Kuala, Kamis (3/9).

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Kepala Desa Sampurna menjadi momentum untuk menggali secara langsung kondisi, kendala, serta kebutuhan para petugas dan unsur terkait dalam menghadapi Karhutla di wilayah.

Tim Siswa Sesko TNI dipimpin Kolonel Mar Bondan W yang didampingi Kolonel Adm Kukuh S, Kolonel Arm Krisrantau, dan Kolonel Inf Ahmad Alam, disambut langsung Danpos Ramil Jejangkit Peltu Haris Santo, Kapolsek Jejangkit Iptu Perti Anggono, perwakilan BNPB Barito Kuala, Tagana, Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan Dinas Kesehatan Kab. Barito Kuala.

Dalam peninjauan tersebut, tim melakukan wawancara dan diskusi dengan sejumlah narasumber guna memperoleh gambaran nyata mengenai penanganan Karhutla di lapangan.

Babinsa Koramil 1005-05/Mandastana Pelda Rahmadi mengungkapkan bahwa kebakaran biasanya terjadi setelah tengah hari dengan titik api yang dapat berpindah-pindah, salah satu kendala utama dalam penanganan karhutla adalah sulitnya mendapatkan sumber air akibat kondisi kemarau. Jarak sumber air menuju titik api juga cukup jauh, sementara kemampuan pompa air terbatas.

“Water pump maksimal menggunakan lima rol, sedangkan untuk mencapai titik api hingga delapan rol pun masih kurang,” ungkapnya.

Selain keterbatasan sumber air dan jangkauan peralatan, petugas juga menghadapi kendala medan. Sejumlah titik kebakaran sulit dijangkau kendaraan karena kondisi jalan dan jembatan kayu yang tidak memungkinkan dilalui kendaraan tertentu. Kondisi tersebut membuat petugas harus mengandalkan mobil pikup dengan jumlah yang masih terbatas.

Pelda Rahmadi juga menyampaikan masih terbatasnya perlengkapan pengamanan pribadi bagi personel. Menurutnya, keterbatasan sarana dan prasarana tersebut dapat membahayakan keselamatan petugas sekaligus membatasi kemampuan dalam melakukan pemadaman ketika jumlah titik api meningkat.

Sementara itu, perwakilan Dinas Perhubungan Kab. Barito Kuala, Arul, menyampaikan sejumlah usulan untuk memperkuat penanganan Karhutla, di antaranya pembangunan embung di sekitar wilayah rawan kebakaran serta penyediaan bak atau kolam portabel sebagai sumber air di lokasi rawan Karhutla.

Ia juga mengusulkan dukungan kendaraan roda tiga seperti Tosa untuk membawa peralatan menuju titik api serta pelebaran akses jalan agar kendaraan pemadam lebih mudah menjangkau lokasi kebakaran.

“Di Kabupaten Barito Kuala terdapat sekitar 91 kesatuan pemadam kebakaran dengan jumlah personel lebih dari 2.377 orang. Namun, sebagian besar relawan masih mengandalkan biaya mandiri sehingga memiliki keterbatasan dalam operasional pemadaman,” ungkapnya.

Dari sisi kesehatan, perwakilan Dinas Kesehatan Kab. Barito Kuala, Agus, turut menyampaikan dampak kabut asap terhadap masyarakat. Kondisi asap yang cukup pekat dinilai berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Ia menyampaikan perlunya penyesuaian aktivitas pendidikan dengan kondisi kualitas udara. Apabila kondisi asap membahayakan, kegiatan pembelajaran dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi di wilayah masing-masing.

Dinas Kesehatan juga telah melakukan penyuluhan kesehatan hingga tingkat Posyandu, termasuk edukasi mengenai pencegahan dampak kebakaran dan pembagian masker. Namun, dukungan tersebut masih terbatas sehingga diperlukan peningkatan kegiatan penyuluhan dan bantuan kepada masyarakat.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran faktual mengenai kondisi penanganan Karhutla di lapangan sekaligus menjadi bahan masukan dalam memperkuat sinergi dan kesiapsiagaan berbagai unsur dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan di Kab. Barito Kuala. (HY/RL)