Religi  

Genap Berusia 100 Tahun, Presiden Puji Kontribusi dan Nilai-Nilai Luhur Pondok Modern Darussalam Gontor

Genap Berusia 100 Tahun, Presiden Puji Kontribusi dan Nilai-Nilai Luhur Pondok Modern Darussalam Gontor

PONOROGO, REDAKSILINTAS.COM — Pondok Modern Darussalam Gontor genap memasuki usia satu abad. Peringatan 100 tahun pesantren legendaris ini dirayakan melalui Resepsi Kesyukuran di Ponorogo, Jawa Timur, yang dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia, jajaran menteri kabinet, tokoh-tokoh nasional, hingga para duta besar dari berbagai negara sahabat.

Dalam pidato sambutannya, Presiden menyampaikan apresiasi dan rasa hormat yang mendalam atas perjalanan panjang Gontor dalam mencetak generasi penerus bangsa yang unggul dan berkarakter.

Puluhan alumni Gontor asal Bangka Belitung turut hadir dan ambil bagian dalam rangkaian Reuni Akbar 100 Tahun Gontor.

Mereka datang dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk kembali ke almamater, bersilaturahmi dengan sesama alumni, serta menjadi bagian dari sejarah satu abad perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor.

Kehadiran para alumni asal Bangka Belitung tersebut menjadi gambaran kuat bahwa ikatan antara Gontor dan para alumninya tidak berhenti setelah mereka menyelesaikan pendidikan di pondok. Nilai, persaudaraan, dan semangat pengabdian yang ditanamkan selama menjadi santri terus menjadi bagian dari perjalanan kehidupan mereka di tengah masyarakat.

Buah Cita-Cita Luhur para Pendiri
Presiden menegaskan bahwa benih cita-cita luhur yang ditanamkan oleh Trimurti pendiri Gontor—K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainudin Fanani, dan K.H. Imam Zarkasyi—100 tahun yang lalu kini telah tumbuh menjadi institusi yang sangat besar dan berdampak luas.

“Hari ini kita melihat buahnya tersebar di seluruh Indonesia dan berbagai penjuru dunia,” ujar Presiden.

Ia mengapresiasi keberhasilan Gontor sebagai lembaga pendidikan Islam modern yang secara konsisten melahirkan alumni-alumni berkualitas yang berkiprah di berbagai bidang pengabdian masyarakat.

Panca Jiwa dan Moto Gontor Jadi Teladan Bangsa
Dalam kesempatan tersebut, Presiden secara khusus menyoroti ajaran Panca Jiwa (Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah, dan Kebebasan) serta Moto Gontor (Berbudi Tinggi, Berbadan Sehat, Berpengetahuan Luas, dan Berpikiran Bebas).

Menurutnya, nilai-nilai kepribadian yang ditanamkan pesantren ini sejalan dengan jiwa perjuangan dan pembentukan karakter kepemimpinan nasional.

Prinsip keikhlasan, kejujuran, dan kemandirian disebut sebagai benteng utama dalam mencetak pemimpin yang bersih dari praktik korupsi serta peduli pada kesejahteraan rakyat.

Integritas dan Sikap “Di Atas Semua Golongan”
Gontor juga dipuji atas konsistensinya menjaga independensi. Falsafah Gontor yang “berada di atas dan untuk semua golongan” serta “tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana” terbukti menjadi perekat persatuan. Meskipun santri diajarkan untuk memahami dinamika kebangsaan dan politik secara bijak, pesantren tetap memegang teguh komitmen untuk tidak terlibat dalam politik praktis.

Optimisme Bagi Generasi Masa Depan
Melihat antusiasme ribuan santri dan santriwati yang hadir, Presiden menyatakan rasa optimisnya terhadap masa depan Indonesia. Para santri Gontor diharapkan mampu menjadi generasi penerus yang berpengetahuan luas, berjiwa besar, serta membawa bangsa Indonesia berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) dan dihormati di kancah internasional.

“Selamat untuk Gontor. Teruskan panggilan sejarah, teruskan perjuanganmu, dan berbuatlah yang terbaik untuk bangsa dan umat,” tutup Presiden mengakhiri sambutannya. (Alvi/RL)

Writer: YUDIEditor: RAHMA