KOTABARU, REDAKSI LINTAS – Sasirangan, kain adat khas suku Banjar dari Kalimantan Selatan, kini tak lagi sekadar digunakan dalam upacara adat maupun pengobatan tradisional. Di tangan pelaku UMKM, kain penuh makna ini bertransformasi menjadi produk fashion modern yang diminati masyarakat, baik di dalam maupun luar Pulau Kalimantan.
Salah satu sosok inspiratif di balik transformasi tersebut adalah Rabiatul Hariah, anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXVII Dim 1004 Koorcab Rem 101 PD XII/Tambun Bungai. Istri dari Letda Inf Nordin Joni ini mengembangkan usaha sasirangan dengan dukungan penuh dari pembina dan Ketua Persit di jajarannya.
Dikenal sebagai Ibu Rabiatul, ia berhasil membuktikan bahwa kain sasirangan, khususnya motif ikan todak, memiliki potensi ekonomi yang besar sekaligus nilai budaya yang kuat. Motif ikan todak yang diusungnya bukan sekadar hiasan, tetapi sarat filosofi—melambangkan kerja keras, keteguhan dalam menepati janji, serta harmoni antara manusia dan alam.
Dalam proses pembuatannya, kain sasirangan todak diproduksi menggunakan perpaduan pewarna alami dan sintetis. Setiap motif dihasilkan melalui teknik ikat tangan yang khas, menjadikan setiap lembar kain memiliki keunikan tersendiri dan nilai seni yang tinggi.
Usaha ini bermula dari hobi. Namun, dengan visi yang jelas, Ibu Rabiatul mengembangkannya menjadi sumber penghasilan yang produktif. Sejak tahun 2015, ia aktif mengikuti berbagai pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan kualitas produknya.
Dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah, ia mulai memasarkan hasil karyanya kepada kerabat, tetangga, hingga jaringan yang lebih luas. Keikutsertaannya dalam berbagai pameran tingkat daerah serta kegiatan organisasi Persit Kartika Chandra Kirana turut memperluas jangkauan pemasaran produknya.
Memasuki era digital, Ibu Rabiatul memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran. Strategi ini terbukti efektif dalam meningkatkan penjualan sekaligus memperkenalkan sasirangan motif todak ke pasar yang lebih luas.
Upaya yang dilakukan Ibu Rabiatul menjadi bukti nyata bahwa anggota Persit tidak hanya berperan sebagai pendamping prajurit, tetapi juga mampu berkontribusi dalam pelestarian budaya sekaligus penguatan ekonomi keluarga. Semangat inilah yang sejalan dengan tekad “UMKM Persit Bisa”.
Sasirangan motif todak kini hadir bukan hanya sebagai produk kerajinan, tetapi sebagai simbol keteguhan budaya Banjar yang tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi—tajam seperti todak, dan teguh menjaga jati diri. (RELIMA)






